07 September 2011

SATU TIM....(belajar dari kekalahan dari Bahrain, dari sudut pandang seorang pekerja)



Setelah melihat sepak bola antara Timnas Garuda dengn Tim Bahrain yang akhirnya, kita harus puas kalau tim kita di bantai di kandang sendiri dengan skor 2-0. Dengan permainan yang bisa dibilang jauh dari “bagus’ saat berlaga di piala asia tempo hari. Dari sisi penyerangan, dengan mengandalkan gonzales sebagai target man dengan di dukung sokongan dari Boaz dan Bepe, seakan-akan menjadi macan ompong. Mungkin mandulnya lini depan ini juga perlu diperhatikan faktor lainnya, yaitu faktor kreatifitas lini tengan dan dukungan dari lini belakang ataupu keberanian untuk berkreatifitas dan melakukan overlapping untuk membantu serangan.
Saat bola sudah sampai di lini tengah, kemudian diumpankan ke lini depan, maka dengan segera itu, segera mandek. Karena pemain-pemain yang berkualifikasi penyerang seakan-sekaan tidak ada bantuan dari second line. Beda dengan Tim Bahrain, yang seakan-akan pergerakan pemain serta sokongan dari second line selalu ada.
Belajar dari pengalaman diatas, jika di analogikan dengan suatu prinsip kerja maka bisa diambil suatu Ibroh atau pelajaran. Jika ada seseorang atau tim yang bertanggungjawab untuk melakukan suatu tugas, action ataupun tugas rutin, maka kadang-kadang beban tugas hanya itumpukkan ke person yang mendapat amanah tersebut tanpa ada dukungan dari anggota tim lainnya meskipun berbeda divisi atau departemen. Saat si A mendapat tugas untuk melakukan pengawasan ataupun menyusun acara bagi suatu kemajuan perusahaan/yayasan/organisasi, maka seakan-akan si A bekerja sendiri. Inilah yang kadang menjadi suatu kontradiksi. Memang betul si A adalah yang memangku tanggungjawab terbesar, tapi apalah kemampuan, serta tanggung jawab si A, jika tidak mendapat sokongan dari anggota tim lainnya. Seharusnya satu tim merasa sebagai tim penuh. Seperti pepatah “There is no “I” in team” terjemahan bebasnya tidak ada kata “Aku” di dalam Team, yang memberi pengertian bahwa satu tim adalah satu, dan semuanya wajib bertanggung jawab. Kekalahan satu tim bukan hanya tanggung jawab penjaga gawang saja tapi juga semua lini bertanggung jawab. Kenapa pressing bek bisa kendor ? kenapa penyerang tidak bisa menghasilkan goal ? kenapa umpan-umpan lini tengan tidak ada yang akurat ?
Inilah diharapkan semua person di suatu divisi juga merasa memiliki tanggung jawab yang sama dengan divisi yang lain di suatu perusahaan. Dibutukan kebersamaan, legowo menerima perintah serta keberanian melakukan improvisasi (selama sesuai kaidah yang berlaku) dan berani bertanggungjawab. Jika si A mengalami kebuntuan saat membuat acara di sisi entertainment, mungkin saja si B yang seharusnya hanya bertugas sebagai perlengkapan, memberikan saran dan bantuan dengan menghubungi jariangannya yang bis amembuat acara entertainment begitu bagus. Jadi tidak ada anggota tim yang “Nganggur” melihat anggota lainnya sibuk. Seperti fasafah total football dengan jargonnya “pertahanan terbaik adalah menyerang” dan diukung pergerakan penuh pemain serta tanggung jawab dari pemain lain untuk segera menutup lini yang kosong yang ditinggal over lapping. Bisa saja seorang pemain tengan menjadi bek, jika bek tersebut melakukan over lapping ke depan membantu penyerangan. Jadi tidak ada lini yang kosong. Sama juga saat bagian dari acara kepanitiaan yang digagas dengan berbagai koordinator. Koordinator acara pun juga bisa harus menghandle koordinator perlengkapan, minimal tahu, tidak cuek serta tetap berempati.
Itulah gunanya tim yang handal, dimana saling memahami dan saling men-cover. Tapi yang bisa dipastikan lagi adalah hal itu “TIDAK MUDAH”, SULIT, SORO, UANGEL, ORA ISO.. dan kata-kata lain yang bernada pesimis. Tapi bukanlah seorang pemberani itu adalah orang yang merasa bahwa sebenarnya hal itu sulit, tapi dia akan tetap mencoba......

08 Juli 2011

abdullah Bin Mas'ud

Abdullah Bin Mas'ud

Beliau adalah seorang sahabat yang agung Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridloinya-, pada awalnya beliau seorang budak milik Uqbah bin Mu’ith, sang penggembala hewan ternak milik tuannya pada salah satu perkampungan di kota Mekkah. Dan pada suatu hari Rasulullah saw dan Abu Bakar Shiddiq lewat kepadanya dan bertanya : “Wahai anak muda apakah ada susu pada gembalamu ?” Maka Abdullah menjawab : “Ya, tapi saya hanyalah penjaga”. Maka Nabi berkata lagi : “apakah ada diantara kambing yang mandul tidak dapat memberikan anak”. Ya, jawabnya. Kemudian dia memberikan kambing yang tidak bisa menghasilkan susu, kemudian Rasulullah saw mengusap-usap perutnya dengan tangannya yang mulia dan membacakan beberapa kalimat, maka mengalirlah susu atas izin Allah dari hewan tersebut, lalu Rasulullah saw menampung susu tersebut dengan kedua tangannnya dan meminumnya, baru kemudian diberikan kepada Abu Bakar untuk diminum. Kemudian Rasulullah saw berkata di hadapan kambing tersebut : “Berhentilah”, maka berhenti dan mengeringlah susu dari perutnya, hingga Abdullahpun merasa terheran dan berkata : “Ajarkan kepada saya kalimat yang Engkau baca tadi ! lalu Rasulullah saw memandangnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, dan mengusap kepalanya dan dadanya, lalu bersabda : “Sesungguhnya engkau adalah anak kecil yang berpendidikan”, lalu beliau pergi dan meninggalkannya. (Ahmad)
Akhirnya cahaya hidayah masuk ke dalam dada Ibnu Mas’ud sehingga ia segera mengembalikan gembalanya kepada pemiliknya dan bergegas menuju Mekkah guna mencari seseorang yang dijumpainya beserta sahabatnya hingga ia menemukannya, dan mengetahui bahwa orang yang dijumpainya adalah seorang Nabi utusan Allah, maka iapun mengikrarkan keislamannya dihadapan Nabi, dan termasuk orang  keenam dari enam orang pertama yang masuk Islam.
Pada suatu hari saat para sahabat berkumpul bersama nabi, mereka berkata : “Demi Allah, orang Quraisy nampaknya belum pernah sama sekali mendengar ayat-ayat Al-Quran dibacakan dengan terang-terangan (keras), adakah seseorang yang ingin melakukannya ? maka Abdullahpun langsung berdiri dan berkata : Saya. Merekapun berkata : sungguh kami khawatir akan Engkau, namun yang Kami inginkan adalah seseorang yang memiliki keluarga yang dapat membantu dan melindungi dari siksa dan cemoohan orang-orang musyrikin. Dia berkata : biarkanlah saya melakukannya! Karena Allah yang akan melindungiku. Kemudian dia pergi ke Ka’bah yaitu disaat waktu dhuha, lalu duduk dan mengangkat suaranya dengan lantang, dan membaca Al-Quran dengan lancar :
(بسم الله الرحمن الرحيم. الرحمن. علم القرآن)
Maka, orang-orang Quraisypun mendengarnya sambil terheran dan takjub, siapakah seseorang yang berani melakukan demikian di sekitar mereka ? dan dihadapan mereka ? dan ketika mengetahu bahwa yang melakukannya adalah sang budak Abdullah bin Mas’ud, mereka bertanya dalam keheranan : apa  gerangan yang dilakukan oleh anak Ummu Abd ?
Kemudian mereka diam dan mendengarkan dengan seksama apa yang dibacanya, dan setelah itu mereka berkata sambil mengumpat : Sesungguhnya dia sedang membaca sesuatu yang dibawa oleh Muhammad. Lalu mereka menarik beliau dan memukulnya dengan pukulan yang sangat keras, namun beliau tetap melanjutkan bacaannya hingga tambah keraslah pukulannya, dan beliaupun akhirnya menderita sakit yang sangat parah, hingga berhenti dari bacaannya, lalu penduduk Makkahpun akhirnya meninggalkannya dan tidak mengsangsikan akan kematiannya kelak. Sementara itu para sahabat yang lain menolongnya dan tampak di dalam tubuh dan wajahnya bekas pukulan. Mereka berkata kepadanya : inilah yang kami khawatirkan atasmu. Namun Ibnu Mas’ud berkata : tidaklah musuh-musuh Allah lebih rendah di dahapanku setelah  ini, jika kalian kehendaki aku akan ulangi lagi besok seperti yang aku lakukan pada hari ini (maksudnya melakukan kembali seperti semula)?! Mereka berkata : jangan, sungguh engkau telah memperdengarkan apa yang mereka benci.
Ibnu Mas’ud pernah melakukan hijrah dua kali, dan Rasulullah saw merpersaudarakannya dengan Az-Zubair bin Al-Awwam saat beliau tiba di Madinah.
Ibnu Mas’ud merupakan sahabat yang paling berani dalam berjihad di jalan Allah, beliau mengikuti semua peperangan yang dilakukan kaum muslimin, saat perang Badr ibnu Mas’ud pergi menghadap Rasulullah dan memberi kabar gembira untuknya, beliau berkata : wahai Rasulullah, aku telah berhasil membunuh Abu Jahal, maka Rasulullahpun gembira mendengar berita tersebut dan menghadiahkan kepadanya pedang yang dipergunakan Abu Jahal sebagai imbalan terhadap apa yang dilakukan.
Ibnu Mas’ud juga merupakan sahabat yang paling cerdas dalam hafalan –Qiraah- Al-Quran, dan memiliki suara yang merdu. Karena itulah Rasulullah saw  pernah bersabda : “Mintalah kalian akan bacaan Al-Quran pada empat sahabat : Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal”. (HR. Al-Bukhari). Beliau juga bersabda : “Bagi siapa yang suka membaca Al-Quran dengan benar sesuai dengan yang diturunkan, maka hendaknya mengikuti bacaan Ibnu Ummi Abd”. (HR. Al-Bazzar).
Dan Rasulullah saw juga senang mendengar bacaan Al-Quran darinya, suatu hari beliau berkata kepadanya : “Bacakanlah kepadaku Al-Quran”, Abdullah berkata : saya membacakan Al-Quran atasmu sementara Al-Quran turun kepadamu ? beliau bersabda : “Aku sangat senang mendengar ayat Al-Quran dari selainku”, maka beliaupun membacakannya surat An-nisa hingga mencapai ayat dari firman Allah :
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيداً
maka Rasulullahpun menangis dan berkata kepadanya : Cukuplah sampai disitu !” (Al-Bukhari)
Ibnu Masud berkata : Saya mendapatkan dari mulut Rasulullah saw 70 puluh surat. Dia berkata tentang dirinya : sungguh aku lebih faham tentang kitabullah dari sahabat lainnya padahal aku tidak lebih baik dari mereka, dan tidak ada kitabullah; baik surat ataupun ayat kecuali aku tahu dimana diturunkan dan kapan diturunkan.
Abdullah bin Abbas pernah berkata : Nabi saw selalu mengulang bacaan Al-Quran bersama Jibril satu kali dalam setahun, dan saat menjelang ajal dilakukan dua kali, dan saat itu Abdullah bin Masud hadir dan beliau mengetahui mana ayat yang dihapus dan mana yang diganti.
Hudzaifah juga pernah berkata : para penghafal Al-Quran dari sahabat sudah banyak mengetahui bahwa Abdullah bin Mas’ud merupakan orang yang paling dekat wasilahnya pada hari kiamat dan paling faham tentang kitabullah.
Abdullah bin Masud sangat cinta kepada Allah dan Rasulullah saw dan beliau selalu mengiringinya kemana saja beliau berjalan, membantu nabi saw. memakaikan sendalnya, membangunkannya jika beliau tertidur, menutupinya jika beliau sedang mandi, dan nabipun sangat cinta dan begitu cinta dengan Abdullah. Beliau pernah berkata kepada Rasulullah saw : Ijinkan aku untuk mengangkatkan hijab untuk menutupimu, dan mempergunakan bantalku –tempat tidurku- hingga dapat melindungimu”. (Muslim). Maka sejak saat itu Abdullah diberi julukan dengan shohib assawad wa siwak –pemilik bantal dan siwak-, Rasulullah saw telah memberikan kabar gembira kepadanya sebagai calon penghuni surga, Rasulullah saw bersabda kepadanya : “Sekiranya saya diperintahkan untuk menunjuk pemimpin kepada seseorang –menjadi khalifah- tanpa musywarah diantara mereka maka aku akan angkat –menjadi khalifah- atas mereka Ibnu ummi Abd”. (Turmudzi).
Rasulullah saw juga pernah bersabda : “Berpegang teguhlah denganahd –kitab- Ibnu Mas’ud”. (Turmudzi). Dan Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “Saya ridlo terhadap umatku sebagaimana yang diridloi Ibnu Ummi Abd”. (Al-Hakim).
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw menyuruh Abdullah bin Mas’ud memanjat sebuah pohon untuk memetik buahnya, ketika para sahabat melihat betis kakinya mereka tertawa, maka Rasulullah saw bersabda : “Apa yang kalian tertawakan? sunnguh kaki Abdullah bin Mas’ud lebih berat timbangannya pada hari kiamat dari siapapun”. (HR. Ahmad, Ibnu Sa’ad dan Abu Na’im).
Pada masa khilafah Al-Faruq ra, Umar mengutus beliau dan Yaser ke Kufah, beliau berkata : Ammar sebagai gubernur dan Ibnu Mas’ud sebagai guru dan mentrinya, kemudian beliau juga berpesan kepada penduduk Kufah : Saya titipkan pada kalian Abdullah bin Mas’ud atas diriku. Pada saat musim haji datanglah seseorang dari Kufah dan bertemu kepada Umar, dia berkata : Wahai Amirul Mu’minin saya datang dari Kufah dan saya tinggalkan seseorang yang mengkisahkan mushaf Al-Quran dari hatinya. Umar berkata : celaka kamu, siapakah gerangan ? lelaki itu berkata : Abdullah bin Mas’ud. Umar berkata : Demi Allah, saya tidak mengetahui seorangpun dari manusia lebih berhak darinya.
Abdullah bin Mas’ud adalah orang yang ‘alim dan bijaksana. Diantara ungkapannya yang terkenal adalah : “Wahai sekalian manusia, hendaklah kalian taat dan selalu berada dalam jamaah, karena yang demikian adalah tali Allah yang telah diperintahkan, dan sesungguhnya sesuatu yang kalian tidak sukai dalam berjamaah lebih baik daripada sesuatu yang kalian cintai dalam berpecah belah”.
Beliau juga pernah berkata : Sungguh saya sangat benci pada seseorang yang santai, tidak memiliki pekerjaan di dunia dan untuk akhiratnya”.
Saat sakaratul maut, Amirul mukminin Utsman bin Affan datang menjenguknya, beliau berkata kepadanya : Maukah aku panggilkan dokter untukmu ? Abdullah bin Mas’ud berkata : Dokter telah membuatku sakit. Utsman berkata : kami berikan kepada anak-anak perempuanmu harta. Beliau mempunyai 9 orang anak perempuan. Abdullah berkata : tidak, aku telah mengajarkan kepada mereka surat, saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa yang membaca surat al-waqiah maka tidak menimpa dirinya kekurangan selamanya”. (Ibnu Asakir).
Ibnu Mas’ud menjumpai Rabbnya dengan keimanan yang benar dan keyakinan yang teguh, merasa cukup terhadap apa yang telah dikaruniakan Allah kepadanya, Zuhud terhadap segala kenikmatan dunia yang palsu, beliau meninggal pada tahun 32 H, dan umurnya pada saat itu 60 tahun dan dikebumikan dipemakaman baqi.
Ibnu Mas’ud banyak meriwayatkan hadits Rasulullah saw, dan para sahabat serta para tabiin banyak meriwayatkan hadits darinya.
(copy paste from friend)

26 Februari 2010

Tidak Punya Pilihan .........

seorang karyawan swasta, sebut saja namanya jimi. lulusan sebuah PTN di surabaya dari fakultas Hukum. bergelar SH. sama seperti semua sebagaian besar sarjana di negeri ini, pingin bekerja disebuah perusahaan yang bonafit, jadi karyawan.
jimi masuk di bagian HRD. dimana pandangan awalnya, dia akan berkutat dengan ilmu hukum, berkutat dengan undang-undang, berdebat atau bahkan menngalang suat pergerakan, seperti yang ia dapat di fakultas "Merah".
setelah 2 tahun, ia merasa kecewa dengan apa yang didapatnya selama ini di tempat ia bekerja. jam kerja yang melampui batas, hanya jadi tempat pelampiasan amarah pimpinan, disalah-salahkan, job dis yang ngawur bahkan tidak sesuai dengan yang dipikirkannya. jimi frustasi, stress berat, ingin keluar, namun umur sudah menua, dan harus menghidupi anak istri.
saudara, apakah anda pernah mengalami hal seperti yang dialami Jimi ? ataukah kerabat, teman dekan anda bahkan mungkin tetangga anda . dimana mengalami ketidakpastian. bekerja di sektor swasta adalah sama dengan bekerja dengan serba kemungkinan yang dominan, kemunkinan besok akan dipecat, kemunkinan besok kena marah lagi, kemungkinan besok harus kecewa lagi ?
saudara, dari yang dialami jimi tersebut, ada hal yang bisa kita petik :
tetaplah minta petunjuk dengan Allah Swt, berdoalah agar kita diberi yang lebih baik lagi dari yang kita dapat. tetaplah berusaha, jangan pernah meminta untuk berdoa ke Allah. "Bersyurlah maka akan Kutambah nikmatmu...."(Qs. Ibrahim)
tetaplah bersyukur, masih banyak saudara kita yang belum bisa bekerja seperti kita atau masih banyak yang belum selayak kita. memandanglah keatas untuk memotivasi agar kita lebih dari yang lain namun tetaplah memandang kebawah untuk selalu menguatkan hati ini dan selalu bersyukur kepada Allah Swt
berfikirlah positif, mungkin ini adalah cobaan ataupun batu loncatan. "Allah akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuan hambanya", dan juga "Allah akan selalu mengikuti persangkaan hambany"(Alhadits)
tetap mencari jalan yang terbaik.
wallahualam Bishowab.

Nikah siri antar hukum syariah dan ijtihad

Nikah siri, secara ringan dan kasaran dapat diartikan sebagai suatu nikah yang tidak dicatatkan, halal dan pernah dilakukan oleh rasulullah. dalam tulisan ini tidak mencoba mengambil dari sisi hukum islam. yang jadi pertanyaan adalah : apakan nikah siri dipandang dari pandangan kekinian sebagai suatu yang ikhsan ?
ada beberapa pendapat secara hukum positif, bahwa dengan melarang Nikah siri maka negara secara terang-terangan telah melanggar HAM dan Nikah adalah hak setiap warga negara. menurut saya nikah merupakan suat hak bagi warga negara dan itu jelas, tetapi apakah sesuatu yang halal tidak dapat berubah menjadi haram jika dalam pelaksaannya lebih dekat ke penyimpangan ?
dari hal ini, dalam nikah siri terdapat suatu ketidak pastian akan hukum ataupun status karena :
secara legal, peraturan tentang pernikahan sudah diaturi di UU perkawinan
dalam negara RI ini ada institusi yang berwenang dalam hal pencatatan nikah secara islam yaitu KUA
dalam hal terjadi penyimpangan maka pihak yang paling menderita adalah wanita. coba anda bayangkan, jika anda melakukan nikah siri, dan sehari setelah itu nyawa anda dicabut oleh Allah, bisa anda bayangkan nasib istri anda ? bagaimana pendapat orang-orang disekitarnya serta anaknya. negara tidak akan mengakui anak tersebut dan ibu anak tersebut. status waris juga sulit.
jadi secara sosial, sebenarnya lebih banyak mudharatnya daripada kemaslahatannya. kalo memang anda sudah siap nikah lahir batin kenapa harus dibawah tangan, mendingan langsung ke KUA dan nikah disana kemudian buat syukuran kecil-kecilan, ngundang tetangga, dah beres semua. Halal, ikhsan, terjamin. wallauhualam

10 Juni 2009

belasungkawa untuk pembungkaman Ibu Prita

"TURUT BERDUKA CITA ATAS DIBUNGKAMNYA KEBEBASAN MENYAMPAIKAN PENDAPAT"
TURUT BERDUKA CITA UNTUK PENEGAK HUKUM YANG TIDAK BISA MELIHAT SISI KEMANUSIAAN SELAIN SISI HUKUM POSITIF"
SEMOGA YANG DILALUI IBU PRITA AKAN MENJADI PELAJARAN BAGI KITA SEMUA, DAN SEMOGA PEMBUAT UU SADAR APA YANG TELAH DILAKUKAN, DAN AGAR PEMERINTAH MELEK TERHADAP SISI KEMANUSIAAN WARGA NEGARA YANG MENYAMPAIKAN PENDAPATNYA"

01 Juni 2009

Kekuasaan dan Kepentingan

selesai sudah koalisi antar partai. setelah proses negosiasi antar partai akhirnya mengerucut ke 3 capres. dari koalisi, tarik menarik, negoisasi, banyak asumsi-asumsi yang berkembang di masyarakat, terutama grass root. banyak kabar-kabar yang kadang negatif maupun positif. mulai dari yang dianggap gila kekuasaan sampai mengorbankan ideologi.
bahkan ada yang beranggapan bahwa semua partai hanya mementingkan kekuasaan, mementingkan jabatan bahkan tidak pro wong cilik.
ini mungkin cermin dari salah urusnya pendidikan politik di negeri ini, sehingga setelah dikebiri selama 32 tahun oleh orde baru, masih ada stigma bahwa partai hanya alat mencapai kekuasaan. sebenarnya dari hal diatas, antara kekuasaan dan kepentingan seharusnya sejalan. partai politik dibentuk memang untuk merebut kekuasaan. bahkan karena sistem pemilu atau "perebutan kekuasaan yang halus" kita memang harus melalui partai, maka mau tidak mau, jika kita mengingikan perubahan di negara ini, harus melalui pemilu.
kekuasaan itu memang harus diperjuangkan. jika dalam hal syar'i, rasulullah juga merebut kekuasaan dari quraisy, muhammad al fatih juga menduduki konstatinopel, umar bin abdul aziz juga melancarkan peperanga. dan semua itu tidak ada yang mempermasalahkan. namu kenapa di indonesia, yang masyarakatnya mayoritas muslim masih mempermasalahkan perebutan kekuasaan. jika ada partai yang merapat ke partai lain, apalagi partai islam atau mayoritas islam ke partai nasionalis yang besar maka sudah banyak nada miring. ini lah yang harus diperbaiki, esensinya adalah nantinya kekuasaan itu dibuat untuk apa. jika partai tersebut mengingikan akses yang lebih luas untuk perkembangan dakwah dengan menjalin koalisi dengan partai pemenang, kenapa tidak. jika partai islam menawar jabatan menteri yang kira-kira bisa lebih memperluas ruang gerak kaum muslim di negara ini, kenapa tidak kita dukung.
di negara ini, malah sebaliknya, malah dianggap gila kekuasaan, sudah berubah ideologi, atau lain-lain. atau bisa saja pihak yang mencemoh itu merasa tidak punya akses luas, frustasi akhirnya lebih senang menyerang secara terbuka terhadap saudara seimannya.
jadi kesimpulannya adalah penggunaan kekuasaan. dari sini juga harus ada mekanisme pengawasan serta pengontrolan dari masyarakat. masyarakat berhak menyemprit partai yang sudah keluar jalur dari yang dijanjikan, atau tidak sesuai dengan kontrak politik. wallahualam bishowab.

29 April 2009

Koalisi pasca pemilu legislatif sebenarnya sudah hal yang lumrah, apalagi peraturan dari pemerintah sendiri, hanya partai yang memeperoleh 20% suara saja yang berhak mencalonkan presiden secara independen. posisi di jumlah kursi untuk di DPR sangat strategis, namun bagaimanapun juga jabatan sebagai RI-1 (presiden) sangat strategis, karena awal kebijakan ataupun peraturan dari presiden, walaupun pada prosesnya masih bisa dicounter oleh DPR sebagai lembaga "penanding" dari presiden. tapi dengan banyaknya kursi serta berbagai kepentingan maka kadang DPR sulit untuk melakukan suatu tandingan bagi presiden.
dalam hal inilah, koalisi diperlukan. selain sebagai suatu cara untuk memenangkan pilpres mendatang. permasalahannya adalah koalisi tersebut sehat ataukah hanya dendam sesaat. karena bagaiamanapun, setiap koalisi pasti ada kepentingan, tinggal kepentingan tersebut positif ataukah negatif, serta juga bagaiamana cara yang dilakukan untuk melakukan pencapaian tujuannya.
dari perkembangan politik di indonesia, terjadi koalisi yang menurut saya (asumsi awal) seakan-akan sebagai tandingan atau bentuk suatu keputus asaan untuk menghadang 1 calon yang dianggap kuat, yang tingkat elektabilitasnya jauh diatas capres lainnya.
sebenarnya bukan masalah pragmatisme untuk kekuasaan tapio apakah koalisi tersebut menjamin suatu kontrak politik untk kebaikan rakyat negeri ini.